Contoh Kasus Dalam Kehidupan Nyata

Siska, seorang perawat di sebuah Rumah Sakit Islam di kotanya. Hari ini dia shift pagi dan merawat kamar A sampai kamar D. Seorang pasien  Tuan Elbert post operasi kanker hari ke-3 yang di rawat di kamar A. Tuan Elbert sudah diperbolehkan makan makanan lunak dengan lauk pauk dan sayur yang juga lunak. Pada siang hari, Siska mengantar makan siang ke kamar A, Tuan Elbert. sesampainya disana, Tuan Elbert mengatakan bahwa beliau ingin sekali makan bubur yang disiram kuah kaldu babi. Siska terkejut mendengar pernyataan Tuan Elbert. Dia mengatakan bahwa dia tidak bisa memenuhi permintaan Tuan Elbert karena instansi tempat di bekerja adalah sebuah Rumah Sakit Islam. Tetapi Tuan Elbert tetap memaksa dan meminta ijin untuk membawa sendiri makanan tersebut dari rumah. Tetapi Siska tetap tidak mengizinkan. Bahkan tanpa menjelaskan apapun, dia meninggalkan Tuan Burhan sendiri. Keesokan harinya, Tuan Elbert meminta pulang paksa dengan alasan perlakuan perawat yang kurang menyenangkan.

Tata Nilai Perawat Care, Empathy, Altruism

Image

Nilai secara umum adalah sesuatu yang dianut oleh suatu masyarakat, mengenai apa yang dinggap baik dan apa yaang dianggap buruk oleh masyarakat. Nilai-nilai berhubungan satu sama lain serta membentuk sistem nilai. Perawat juga telah menetapkan nilai dan harus mengembangkan kesadaran tentang bagaimana sistem nilai mereka sendiri akan mempengaruhi perawatan klien. Pemahaman sistem nilai akan membantu perawat bertindak secara profesional.

Tata nilai adalah aturan yang dapat membatasi perilaku,peran dan etika perawat. Tata nilai perawat adalah seperangkat nilai yang dibuat untuk profesi perawat agar perawat dapat memahami dan menjalankan perannya sebagai perawat dengan sebagaimana mestinya . Tata nilai perawat meliputi care, empathy, dan altruism.

1.Care

Image

Nilai dasar dan paling utama yang harus tertanam kuat dalam sikap perawat adalah care, karena care salah satu yang membedakan perawat dengan profesi yang lain. Care adalah sikap yang bertujuan untuk memberikan bimbingan, bantuan, ataupun dukungan perilaku perawat kepada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian untuk meningkatkan kondisi dan kualitas kehidupan manusia. Namun sifat care tidak bisa langsung dimiliki oleh seseorang. Untuk memiliki sifat care kepada orang lain, kita perlu belajar seumur hidup karena semakin lama kita care kepada orang lain, semakin kuat pula sifat care yang kita miliki. Pada dasarnya, sifat care mutlak dimiliki oleh semua orang, bukan hanya untuk orang yang berprofesi sebagai perawat saja. Watson mengungkapkan teori tentang caring yaitu ia mempertegas bahwa sebagai jenis hubungan dan transaksi yang diperlukan antara pemberi dan penerima asuhan untuk meningkatkan dan melindungi pasien sebagai manusia yang bermartabat hingga pasien tersebut sembuh dan dapat melindungi diri sendiri lagi.

Watson mengidentifikasi banyak asumsi dan beberapa prinsip dasar dari transpersonal caring dan meyakini bahwa jika seseorang tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Pada  tahun 2988, Watson mengemukakan asumsi-asumsi mendasar mengenai caring di dalam bukunya yang pertama, Nursing : The Philosophy and Science of Caring, yaitu :

  1. Human care hanya dapat diterapkan secara efektif melalui hubungan    interpersonal.
  2. Caring terdiri dari faktor-faktor carative yang menghasilkan kepuasan di dalam pemenuhan kebutuhan manusia.
  3. Caring yang efektif akan meningkatkan kesehatan dan pertumbuhan individu maupun keluarga.
  4. Respon-respon caring tidak hanya menerima keadaan seseorang saat itu, tetapi juga keadaan selanjutnya.
  5. Lingkungan perawatan adalah lingkungan yang memacu pengembangan potensi dan kemungkinan seseorang untuk memilih kegiatan yang terbaik bagi dirinya.
  6. Caring bersifat lebih “healthogenic” dari pada “curing”. Artinya bahwa caring lebih menekankan pada peningkatan kesehatan dari pada pengobatan. Di dalam praktiknya caring mengintegrasikan pengetahuan biofisik dan pengetahuan perilaku manusia untuk meningkatkan derajat kesehatan dan untuk menyediakan pelayanan bagi mereka yang sakit.
  7. Caring merupakan sentral bagi keperawatan (Watson,1988, dalam Dwidiyanti, 1998, Barnhart,et al., 1994, dalam Mariner-Tomey, 1994).

2. Empathy

Empathy dari bahasa yunani yang berarti “ketertarikan fisik“. Empathy adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Mengerti perasaan klien saat menghadapi masalah tanpa larut di dalamya merupakan bentuk empati dari perawat kepada klien. Perawat sebatas mengerti perasaan klien tanpa menunjukkan respons emosional yang berlebihan ketika melihat klien dalam masalah pribadinya. Perawat memandang permasalahan dari kacamata klien (Suryani, 2006) sehingga dalam memandang perasaan klien, perawat tidak menghakimi perasaan klien dan hanya mengikuti perkembangan perasaan emosional dari klien saja. Smith (1992) berpendapat bahwa empati merupakan kemampuan menempatkan diri kita pada posisi orang lain, serta memahami bagaimana perasaan orang lain dan apa yang menyebabkan reaksi mereka tanpa emosi kita terlarut dalam emosi orang lain.

Dengan demikian,empati bisa diaartikan sebagai bentuk dukungan emosional perawat saat klien maupun keluarga menghadapi masalah dengan mendorong tercapainya aceptance atau penerimaan diri. Kegiatan perawat untuk melakukan empati kepada klien dapat berbentuk sebagai berikut :

  1. Melihat klien dan keluarga sesuai paradigmanya
  2. Memahami perasaan dan reaksi emosi klien maupun keluarga
  3. Menunjukkan keikhlasan untuk membantu
  4. Memberikan dukungan sosial melalui kesan verbal dan nonverbal dalam menguatkan dan mempertahankan pertahanan egonya
  5. Memotivasi klien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata sendiri
  6. Berkonsentrasi memperhatikan kesan verbal dan nonverbal untuk mengerti perasaan dan alasan reaksi klien
  7. Menyingkirkan perasaan khawatir untuk membebaskan pikiran yang menggangu

Dengan respon empati, klien dan keluarga merasa dihargai dan diperhatikan untuk mencapai kondisi emosi yang stabil.

3. Altruism

Image

Altruism adalah suatu sifat yang mendorong seseorang untuk menolong orang lain yang memang sedang membutuhkan pertolongan tanpa mengharap imbalan apapun dari orang yang di tolong. Sikap dari nilai altrusime yang ditampilkan perawat meliputi pemberian perhatian, komitmen/ prinsip yang dipegang teguh oleh perawat untuk mempertahankan janji, rasa iba, kemurahan hati, serta ketekunan.

Menurut Leeds (Staub, 1978), bahwa tindakan yang dapat dikatakan altruism apabila memenuhi 3 kriteria :

  1. Hasilnya baik bagi penolong maupun yang di tolong.
  2. Tindakan tersebut dilakukan secara sukarela, atas dasar empati bukan karena paksaan
  3. Tindakan itu bukan untuk kepentingan diri sendiri karena tindakan tersebut mengandung resiko tinggi pelaku, pelaku tidak mengharapkan imbalan materi tidak untuk memperoleh persahabatan dan keintiman.

Perilaku altruistik perawat

  1. Memberikan perhatian yang penuh pada klien ketika memberikan perawatan
  2. Membantu rekan perawat lainnya dalam memberikan perawatan ketika mereka tidak dapat melakukannya.
  3. Menunjukkan perhatian pada kecenderungan dan masalah sosial yang memiliki implikasi perawat kesehatan.

Dalam keperawatan, altruism tersebut menjamin layanan yang tepat serta merupakan karakterisktik kunci utama yang perlu hadir dalam hubungan perawat-pasien. Jika seorang perawat melakukan perawatan kepada pasien tanpa perhatian penuh dan pasien akan rentan terhadap lingkungan yang negatif menyebabkan pandangan negatif dan hasilnya bagi pasien. Altruisme akan membantu membuka belas kasihan perawat dan keterampilan empati, memungkinkan lingkungan yang lebih positif dan penyembuhan untuk pasien.

Referensi :

Potter & Perry. 2005. Fundamental Keperawatan : konsep, proses dan praktik, Edisi 4. Volume

  1. Jakarta: EGC.

http://personalityabdulaziz.blogspot.com/2012/12/tata-nilai-perawat-care-empathy-altruism.html